Menu

Mode Gelap

Nasional

Indonesia Tertekan, Malaysia Mulai Unggul dalam Persaingan Ekspor Sawit Global


 Indonesia Tertekan, Malaysia Mulai Unggul dalam Persaingan Ekspor Sawit Global Perbesar

Kalseldaily.com Banjarbaru – Regulasi anti-deforestasi Uni Eropa (EUDR) dan tuntutan ketertelusuran kini menjadi standar baru perdagangan global. Di tengah perubahan itu, posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia justru semakin tertekan, sementara Malaysia mulai mengambil momentum untuk melangkah lebih maju. Hal ini mengemuka dalam 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC 2025) di Bali, Jumat (14/11/2025).

Adjunct Professor dari John Cabot University Roma, Pietro Paganini, menilai Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap EUDR yang sering dianggap sebagai ancaman. Menurutnya, konsumen kini menuntut transparansi penuh terhadap asal-usul produk, dan negara yang mampu menjawab tuntutan itu akan memenangkan persaingan.

“Jika konsumen menuntut nol deforestasi dan ketertelusuran, kita perlu memberikannya kepada mereka. Mereka adalah raja,” tegas Paganini.

Indonesia memang telah memperkenalkan masa uji coba dua tahun dan satu tahun masa transisi bagi petani kecil sebelum EUDR direvisi pada 2028. Namun tantangan di lapangan masih besar, terutama dalam kesiapan teknologi dan tata kelola. Di sisi lain, Malaysia dinilai jauh lebih cepat beradaptasi dan agresif memanfaatkan peluang pasar global.

Tekanan terhadap Indonesia semakin terlihat dari prediksi LSEG Singapore. Lead Analyst Agricultural Research, Kian Pang Tan, menyebut produksi sawit Indonesia pada 2026 diperkirakan turun akibat pohon tua, lambatnya replanting, kemarau panjang, serta gangguan panen yang diperparah La Niña. Sumatera dan Aceh—penyumbang 14 persen produksi nasional—akan menjadi wilayah paling terdampak. Kondisi ini diperkirakan membuat Indonesia kehilangan pasokan ekspor hingga 1,5–3 juta ton jika program B50 berjalan penuh.

Sebaliknya, Malaysia berpotensi mengisi kekosongan tersebut. Dengan kondisi produksi yang relatif stabil, negara itu diprediksi mampu menambah ekspor hingga 1 juta ton pada 2026. Tahun ini Malaysia memang sempat mencatat penurunan ekspor 9,5 persen, tetapi analis menilai itu hanya faktor harga. Secara struktural, Malaysia berada pada posisi lebih kompetitif—terutama karena tata kelola dan akses pasar yang lebih kondusif.

Keunggulan Malaysia semakin nyata setelah negara itu resmi menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut memberi Malaysia tarif bea masuk 19 persen dan tarif nol untuk beberapa komoditas kunci seperti minyak sawit, kakao, dan karet. Sementara itu, perjanjian dagang Indonesia dengan AS masih tertunda, membuat posisi ekspor RI semakin rentan. Data menunjukkan, ekspor minyak sawit Indonesia ke AS anjlok 25,8 persen hanya dalam tujuh bulan pertama 2025.

Di tengah tekanan tersebut, para analis menegaskan perlunya akselerasi reformasi tata kelola, percepatan replanting, dan adopsi teknologi pemantauan seperti drone, satelit, serta blockchain. Tanpa langkah cepat dan terukur, peluang Indonesia sebagai pemain utama sawit dunia bukan hanya tergerus—tetapi bisa benar-benar digantikan oleh Malaysia dalam beberapa tahun ke depan. (Daily/Fin).

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

Banjarmasin Siapkan Sistem Ducting dan Tiang Bersama untuk Atasi Kabel Semrawut

5 March 2026 - 16:15

Beras Indonesia untuk Jemaah Haji: Pemerintah Ekspor 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi

5 March 2026 - 13:32

KPK Tegaskan Penetapan Yaqut sebagai Tersangka Sudah Penuhi Dua Alat Bukti

4 March 2026 - 21:56

Temuan HIV di Sejumlah Daerah Kalsel Masih Tinggi, Kelompok LSL Mendominasi

4 March 2026 - 14:24

Sukses di Bioskop, Kuyank Jadi Film Kedua 2026 Tembus 1 Juta

28 February 2026 - 23:05

Program MBG Disorot, Sekolah Bisa Ajukan Penghentian

28 February 2026 - 21:38

Trending di Nasional