Teheran – Gelombang demonstrasi besar di Iran terus meluas ke berbagai kota. Aksi protes yang sudah berlangsung sekitar dua pekan ini dinilai sebagai salah satu ancaman paling serius bagi pemerintahan Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Situasi semakin memanas setelah Reza Pahlavi, putra dari Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan pada 1979, menyatakan rencananya untuk kembali ke Iran dalam waktu dekat. Ia juga mengajak warga untuk terus melanjutkan aksi protes.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menanggapi demonstrasi ini dengan menyalahkan Amerika Serikat. Ia menyebut para pengunjuk rasa sebagai perusak dan menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur menghadapi tekanan massa.
Meski pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet secara nasional, demonstrasi tetap berlangsung besar-besaran pada Jumat malam (9/1/2026). Laporan dari NetBlocks menyebutkan bahwa akses internet telah terputus selama lebih dari 36 jam hingga Sabtu pagi (10/1/2026) waktu setempat.
Video yang diverifikasi kantor berita AFP memperlihatkan warga di Distrik Saadatabad, Teheran, memukul panci dan meneriakkan slogan anti-pemerintah dari rumah dan jalanan. Suara klakson mobil juga terdengar sebagai bentuk dukungan terhadap aksi tersebut.
Rekaman lain yang beredar di media sosial dan televisi berbahasa Persia di luar negeri menunjukkan aksi serupa terjadi di sejumlah kota, seperti Mashhad, Tabriz, Qom, dan Hamedan.
Di Hamedan, seorang pria terlihat mengibarkan bendera era Shah bergambar singa dan matahari, sementara warga di sekitarnya menari di dekat kobaran api. Di kawasan Pounak, Teheran utara, massa juga terekam menari di tengah jalan.
Namun, tidak semua video tersebut dapat dipastikan kebenarannya secara independen.
Reza Pahlavi, yang saat ini tinggal di Amerika Serikat, menyampaikan pesan video melalui media sosial. Ia mengajak warga Iran untuk kembali turun ke jalan pada Sabtu dan Minggu (11/1/2026).
Menurutnya, tujuan protes kini bukan hanya berdemonstrasi, tetapi juga menguasai pusat-pusat kota. Ia mengklaim siap kembali ke Iran “dalam waktu yang sangat dekat”.
Di sisi lain, kelompok pembela hak asasi manusia menyampaikan kekhawatiran bahwa pemadaman internet bisa digunakan untuk menutupi tindakan kekerasan aparat.
Organisasi Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 51 orang tewas akibat penindakan aparat keamanan.
Pemenang Nobel Perdamaian asal Iran, Shirin Ebadi, juga memperingatkan bahwa pemutusan komunikasi secara luas dapat membuka peluang terjadinya pembantaian. Sementara itu, pemerintah Iran menyebut beberapa anggota pasukan keamanan juga tewas dalam kerusuhan ini.
Dari luar negeri, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut angkat bicara. Ia mengatakan tidak menutup kemungkinan melakukan aksi militer terhadap Iran.
Trump menyebut Iran sedang berada dalam masalah besar dan menilai rakyatnya mulai mengambil alih beberapa kota. Ia juga memberi peringatan keras kepada pemimpin Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran. (Daily/Fin)















Leave a Reply