Banjarbaru, KalselDaily.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya kejadian di sejumlah wilayah., Hingga saat ini, tujuh kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat karhutla.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan, tujuh daerah tersebut yakni Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Utara (HSU), dan Tanah Bumbu.
Menurut Ronny, keputusan penetapan status siaga darurat dilakukan masing-masing pemerintah daerah dengan berkoordinasi bersama Pemprov Kalsel. Langkah tersebut diambil seiring kondisi karhutla yang mulai meluas di wilayah masing-masing.
“Penetapan status dari tujuh pemerintah daerah yang dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi tersebut sesuai kondisi kejadian karhutla mulai meluas di daerah masing-masing,” ujar Ronny di Banjarbaru, Jumat.
Ia mengungkapkan, tingginya suhu udara dalam beberapa waktu terakhir turut meningkatkan potensi terjadinya karhutla. Berdasarkan data BPBD Kalsel hingga 20 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.651 kejadian karhutla dengan jumlah hotspot mencapai 8.764 titik.
Dari kejadian tersebut, sekitar 6.905 hektare lahan terdampak dan terbakar.
Ronny menyebut Banjarbaru menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi. Hingga periode tersebut tercatat 342 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 1.140 hektare.
Sementara Kabupaten Banjar mencatat 302 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 1.496 hektare. Adapun Kabupaten Tanah Laut mencatat 272 kejadian dengan luasan lahan terdampak mencapai 1.384 hektare.
Untuk mempercepat penanganan, Pemprov Kalsel membagi wilayah operasi menjadi tiga ring prioritas. Ring pertama difokuskan di sekitar Bandara Syamsudin Noor, ring kedua mencakup wilayah utara, sedangkan ring ketiga berada di kawasan selatan.
“Kami terus melakukan patroli dan pemadaman secepat mungkin. Saat ini kami dibantu 3 unit heli waterbombing dari BNPB, 1 heli patroli, dan 1 pesawat,” kata Ronny.
Meski dukungan udara telah diperkuat, penanganan karhutla masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah kondisi akses darat menuju lokasi kebakaran yang sulit. Selain itu, operasi menggunakan helikopter juga dibatasi hingga pukul 18.00 Wita.
Apabila api belum berhasil dikendalikan hingga malam hari, personel Satgas Darat akan melanjutkan upaya pemadaman secara manual.
“Jika api belum padam, terpaksa Satgas Darat harus melanjutkan operasi pemadaman di malam hari,” ujarnya.
Ronny menjelaskan, lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla. Api yang terlihat telah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati karena bara masih dapat bertahan di bawah lapisan gambut.
Kondisi tersebut membuat api berpotensi kembali muncul dan menyebar ketika suhu meningkat serta angin bertiup kencang pada siang hari.
Karena itu, penanganan tidak hanya dilakukan melalui patroli dan pemadaman, tetapi juga dengan langkah mitigasi untuk menjaga kelembapan lahan. Pemprov Kalsel bersama sejumlah SKPD terkait, termasuk dinas kehutanan, dinas lingkungan hidup, dan dinas pekerjaan umum, melakukan pembasahan serta perendaman kawasan gambut.
Koordinasi juga dilakukan dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III untuk mengatur dan membuka pintu-pintu air guna meningkatkan tinggi muka air di kawasan rawan terbakar.
“Langkah ini difokuskan di area utara bandara seperti sekitar Gunung Damar, Golf Ujung, dan Kurnia, untuk menaikkan tinggi muka air dan menekan risiko kebakaran, di tengah sulitnya mencari sumber air di wilayah selatan,” demikian Ronny. (Daily)















Leave a Reply