Kalseldaily.com HST – Libur Idulfitri 2026 menghadirkan fenomena menarik di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bukan hanya objek wisata yang ramai dikunjungi, tetapi juga pemutaran film di bioskop sementara yang dipadati penonton.
Selama empat hari, 21–24 Maret 2026, pemutaran film Kuyank di Balai Rakjat Barabai menjadi magnet hiburan baru bagi masyarakat. Sekitar 2.000 penonton datang silih berganti untuk menyaksikan film tersebut, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap tontonan layar lebar di daerah.
Ketua Balai Rakjat Creative Hub, Ahmad Rizqan, menilai fenomena ini bukan sekadar soal film, melainkan sinyal bahwa masyarakat HST siap menerima perkembangan industri kreatif yang lebih serius.
“Antusiasme ini di luar dugaan. Ini bukan hanya soal hiburan, tetapi juga menunjukkan bahwa pasar perfilman lokal memang ada,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, eksperimen menghadirkan bioskop sementara saat Lebaran justru membuka peluang besar yang selama ini belum tergarap.
Kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aktivitas jual beli meningkat di area sekitar lokasi pemutaran, sementara pemerintah daerah turut memperoleh pemasukan dari sektor pajak hiburan dan pemanfaatan fasilitas publik.
Film Kuyank sendiri merupakan produksi Dari Hati Films yang mengangkat cerita rakyat khas Kalimantan Selatan tentang sosok kuyang. Film ini disutradarai Johansyah Jumberan dan masih berkaitan dengan semesta film Saranjana: Kota Gaib, namun mengambil latar waktu sebelum kisah tersebut.
Cerita yang diangkat tidak hanya menonjolkan unsur horor, tetapi juga konflik sosial dan tekanan budaya dalam kehidupan rumah tangga, sehingga terasa dekat dengan realitas masyarakat lokal.
Menariknya, Muhammad Yani yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah HST turut terlibat sebagai salah satu pemeran dalam film tersebut. Keterlibatan ini menjadi bukti bahwa dukungan terhadap film lokal tidak hanya datang dari komunitas kreatif, tetapi juga dari unsur pemerintah.
Keberhasilan pemutaran film ini sekaligus memunculkan wacana baru mengenai kebutuhan bioskop permanen di Hulu Sungai Tengah. Selama ini, keterbatasan fasilitas menjadi salah satu hambatan bagi berkembangnya industri film di daerah.











Leave a Reply