Jakarta, KalselDaily.com – Pemerintah Indonesia mempercepat realisasi kerja sama ekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura melalui pembangunan pembangkit berkapasitas hingga 3,4 gigawatt (GW). Proyek tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama strategis kedua negara di sektor energi bersih dan transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan kesepakatan tersebut telah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani bersama Keppel Electric dan Sembcorp dari Singapura. Menurutnya, proyek ini dirancang sebagai kerja sama jangka panjang yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Rosan menjelaskan, Danantara bersama mitra swasta akan membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan yang hasil produksinya akan diekspor ke Singapura. Pemerintah juga telah memberikan arahan agar proyek yang telah direncanakan selama beberapa tahun itu segera direalisasikan.
“Kerja sama ini sudah dibahas cukup lama. Sekarang saatnya dipercepat agar dapat segera memberikan manfaat, baik bagi Indonesia maupun Singapura,” ujarnya usai pertemuan di Istana Kepresidenan, Senin (6/7).
Pembangunan pembangkit akan dipusatkan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Kepulauan Riau. Pada tahap awal, kapasitas yang dibangun diperkirakan berkisar antara 600 megawatt hingga 1,2 gigawatt sebelum ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai total 3,4 gigawatt.
Selain menjadi lokasi pembangunan pembangkit, kawasan BBK juga diproyeksikan berkembang sebagai pusat industri hijau yang memanfaatkan pasokan listrik rendah emisi. Ketersediaan energi bersih diharapkan mampu menarik investasi dari perusahaan global yang membutuhkan sumber energi ramah lingkungan untuk operasional industrinya.
Dalam skema kerja sama tersebut, Danantara akan mewakili Indonesia sebagai pengembang proyek, sementara Keppel Electric dan Sembcorp berperan sebagai pembeli atau off-taker listrik yang dihasilkan.
Kesepakatan ekspor listrik hijau ini merupakan salah satu dari 26 nota kesepahaman yang disepakati Indonesia dan Singapura dalam rangka memperkuat hubungan bilateral. Selain sektor energi, kedua negara juga menjalin kerja sama di bidang ekonomi digital, perdagangan listrik lintas batas, kredit karbon, pertahanan, penelitian dan inovasi, pengembangan kawasan industri, hingga investasi energi surya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tengah merampungkan persiapan kawasan industri di Batam, Bintan, dan Karimun sebagai fondasi pengembangan ekosistem energi hijau nasional.
Menurut Bahlil, kawasan tersebut akan menjadi magnet baru bagi investasi industri berorientasi ekspor yang membutuhkan pasokan listrik bersih, termasuk sektor manufaktur berteknologi tinggi, pusat data, hingga industri pendukung rantai pasok rendah karbon.
Dengan terealisasinya proyek ini, Indonesia tidak hanya memperluas pemanfaatan energi terbarukan, tetapi juga membuka peluang peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat posisi sebagai pemasok energi hijau di kawasan Asia Tenggara. (md/daily).















Leave a Reply