Penulis: Ali Syamsudin Arsi*
2007
Sebelumnya tahun 2006 saat penghujung pleno di Kotabaru, peristiwa persaingan untuk menjadi tuan rumah atuh sastra sangat ketat. Banjarbaru dengan Amuntai menjadi kandidat yang di tahap sebelumnya ternyata Marabahan juga pasang badan sebagai tuan rumah. Puncaknya, melalui voting, dan diputuskan sistem negosiasi karena Banjarbaru dan Amuntai memperoleh suara imbang, sementara Marabahan otomatis masuk kandang. Tahap negosiasi disepakati dengan juru bicara nego antara alm. Hanami Adaby sebagai Banjarbaru dengan alm. Harun Al-Rasyid sebagai Amuntai. Putusan akhir Amuntai berada di puncak suara maka tahun 2007 ditetapkan sebagai tuan rumah Asks ke-4, yang dalam pelaksanaannya menghadirkan Korrie Layun Rampan, agenda itu sebagai penyusun konsep adalah alm. YS Agus Suseno dengan tetap berdampingan dengan Pencetus awal, yaitu alm. Burhanuddin Soebly atau Kak Ibuy.

Hal lain yang mungkin tak tampak secara luas adalah jelang rapat pleno. Ketika hari pleno akan digelar dapat kabar bahwa di pintu pesawat berdiri dia tokoh Banjarbaru yang dengan senyum ramah menyapa alam Kotabaru seraya menuruni anak tangga peswat, mereka tak lain tak bukan, yaitu Bang Ogi bersama Bang Erwin. Saat memasuki ruang rapat pleno – waktu itu di ruang operasional, ruang ini infonya sebagai warisan rancang bangun dari Bang Eko Suryadi WS atau Bang Dodo, saya dipanggil dan dibisikan oleh Bang Ogi, ” Pak Asa tahun depan kita Banjarbaru siap sebagai tuan rumah, ” saya langsung kaget, “Bang Ogi, kenapa baru sekarang, waduh, ini menit-menit akhir, seandainya… ” belum tuntas saya selesaikan kalimat, Bang Ogi langsung pasang instruksi, ” Sudah. Upayakan saja. ”
Wuih, wuih, ini perintah komandan, tapi …
Sebelum berangkat ke Kotabaru, biasa kami sudah sangat amat sering kumpul di kedai Hobies seberang Taman Air Mancur kota Banjarbaru. Dua hari sebelum berangkat ke Kotabaru saat kumpul seperti biasa saya lontarkan pertanyaan yang seharusnya sudah ada jawaban di malam itu juga, saya tanya begini, ” Untuk tahun 2007 setelah Kotabaru, apakah Banjarbaru siap sebagai tuan rumah Asks yang ke-4 ? ”
Pertanyaan saya melayang bersama angin malam dan perlahan luruh turun senyap di sayap embun. Tak ada jawaban, malam pun masih tersisa gelap.
Kalau saja pertanyaan itu sama persis dengan yang dibisikkan oleh Bang Ogi, tentu tahun 2007 bukan Amuntai sebagai tuan rumah.
Akhirnya tahun 2026 kita bersastra di Amuntai kembali.
Selamat sampai kembali di rumah masing-masing Para Diva Sastra yang telah jadi saksi atas peristiwa Mambangkit Sastra di Nagara Dipa.
Diva Sastra Kota Amuntai
Diva Sastra Kota Amuntai
Diva Sastra Kota Amuntai
Semoga lancar
Para Diva Sastra menuju kota Banjarbaru tahun 2027.
salam gumam asa
*nama pena dari Syamsudin lahir di Kampung Tubau, Kab. Hulu Sungai Tengah, tercatat di tahun 1964.
Aktif berkesenian teater mulai tahun 1982 di Yogyakarta waktu menempuh pendidikan tingkat SMA. Sejak itu sudah giat menulis cerpen, kolom, dan puisi. Gencar mempublikasikan karya special jenis Gumam Asa, hingga kini sudah menerbitkan 8 buku Gumam Asa, 2 majalah khusus Gumam Asa.
Lolos kurasi buku kumpulan puisi oleh Festival Sastra Ubud – Bali tahun 2015. Diundang oleh Festival Borobudur dan Culture, Jawa Tengah, tahun 2016. Menghadiri Festival Sastra Gunung Bintan di Riau, Menghadiri Festival Pertemuan Penyair Nusantara di Aceh, dll.
Sejak tahun 2005 mengembangkan metode menulis yang disebut Metode Tulisan Berpindah Tangan.
Terlibat dalam beberapa komunitas seni dan budaya.
















Leave a Reply