Kalseldaily.com Banjar — Di tengah rindangnya pepohonan dan udara segar kawasan Arboretum Ayu Tirta di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, komentar tajam Rocky Gerung kali ini berubah menjadi tindakan nyata: menanam pohon ulin, simbol kekuatan dan keteguhan alam Kalimantan.
Kegiatan yang berlangsung Jumat (24/10/2025) itu bukan sekadar seremoni. Dalam balutan suasana sederhana, Rocky tampak berbaur dengan para penggiat lingkungan dan pegiat yayasan yang mengelola kawasan hijau tersebut. Ia menanam pohon ulin di tanah yang dikelola oleh Ayu Tirta Foundation, lembaga yang digagas Chendrawan Sugianto, pendiri merek air minum dalam kemasan PROF.
Bagi Rocky, menanam pohon bukanlah tindakan kecil. Ia menyebut pohon sebagai “sungai vertikal”, tempat kehidupan mengalir dari bumi ke langit.
“Menebang pohon berarti menghentikan peradaban,” ucapnya penuh makna. “Saya menanam ulin ini bukan sekadar menambah pohon, tapi menegakkan kembali peradaban yang memuliakan alam.”
Setelah prosesi penanaman, Rocky menelusuri kawasan arboretum yang luasnya mencapai delapan hektare lebih. Sekitar enam hektare di antaranya ditumbuhi berbagai jenis pohon keras, sementara dua hektare lainnya menjadi lahan persawahan produktif—perpaduan antara konservasi dan kemandirian pangan.
Chendrawan Sugianto, sosok di balik berdirinya Ayu Tirta Foundation, mengatakan bahwa arboretum ini merupakan bentuk penghormatan kepada kedua orang tuanya, Agung dan Yuliana, sekaligus wujud cintanya pada alam Kalimantan Selatan.
“Ulin itu lambang kekuatan dan keabadian. Kalau dirawat, bisa hidup hingga lima abad,” ujarnya. “Saya berterima kasih kepada Bung Rocky yang berkenan datang dan ikut menanam pohon. Ini semangat yang menular bagi kita semua.”
Sejak dimulai pada 2012, arboretum ini telah menumbuhkan berbagai jenis pohon langka dan lokal seperti ulin, meranti merah, cendana, gaharu, mahoni, maja, tanjung, sengon, dan jati. Kawasan ini bukan hanya memperindah lanskap Banjar, tetapi juga menjadi paru-paru hijau dan rumah bagi satwa liar yang kembali datang.
Dosen Antropologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Tony Rudyansjah, Ph.D, menyebut apa yang dilakukan oleh Chendrawan dan Rocky sebagai praktik budaya ekologis yang harus diwariskan.
“Masyarakat yang hidup dekat dengan alam semestinya menjadi rujukan kita. Menanam pohon bukan sekadar kegiatan lingkungan, tapi juga praktik kebudayaan yang menciptakan peradaban berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan langkah sederhana di tanah Banua itu, pesan filsafat Rocky Gerung menemukan wujudnya: bahwa menjaga bumi bukan perkara wacana, melainkan tindakan yang mengakar—seperti ulin yang ditanamnya hari itu. (Daily/Fin/RB)















Leave a Reply