Menu

Mode Gelap

Kesehatan

Konsumsi Makanan Manis di Kalsel Tertinggi di Indonesia, IDI Ingatkan Bahaya Sindrom Metabolik


 Konsumsi Makanan Manis di Kalsel Tertinggi di Indonesia, IDI Ingatkan Bahaya Sindrom Metabolik Perbesar

Kalseldaily.com  Banjarmasin – Kalimantan Selatan dikenal sebagai daerah dengan ragam kuliner lezat yang kaya rasa dan berbahan dasar santan. Namun, di balik kelezatan itu, tersimpan potensi bahaya bagi kesehatan. Data terbaru mencatat bahwa Kalimantan Selatan merupakan provinsi dengan konsumsi makanan manis tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 70,4 persen. Angka ini menjadi alarm bagi masyarakat dan tenaga kesehatan untuk lebih waspada terhadap pola makan yang kurang sehat.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Selatan, dr. Sigit Prasetya Kurniawan, menilai bahwa kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan manis dan bersantan sudah mengakar kuat dalam budaya sehari-hari.

“Angka-angka ini menunjukkan jelas bahwa masyarakat Kalsel memang sangat akrab dengan makanan manis dan bersantan. Kebiasaan ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya, dikutip dari Radar Banjarmasin, Jumat (7/11).

Menurut dr. Sigit, kondisi ini harus disikapi secara serius karena kesadaran hidup sehat di masyarakat masih perlu ditingkatkan. Ia menegaskan bahwa menjaga pola makan seharusnya bukan lagi dianggap sebagai pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.

“Kesadaran hidup sehat masih harus ditingkatkan. Perubahan pola makan menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa konsumsi berlebihan terhadap gula dan lemak jenuh dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini berisiko menimbulkan sindrom metabolik yang berujung pada penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

“Jika tidak dikendalikan, faktor-faktor ini memperbesar risiko sindrom metabolik yang berujung pada penyakit jantung, diabetes, da

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam menumbuhkan kesadaran hidup sehat.n stroke,” jelasnya.

dr. Sigit juga mendorong masyarakat untuk mulai melakukan perubahan kecil dalam keseharian, seperti mengurangi gula tambahan, memilih makanan yang lebih seimbang, serta rutin berolahraga. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat memberi pengaruh besar terhadap kesehatan jangka panjang.

“Perubahan gaya hidup harus dimulai dari kesadaran diri sendiri dan lingkungan terdekat. Ini bukan hanya tentang umur panjang, tapi juga tentang kualitas hidup yang lebih baik,” katanya. (Daily/Fin)

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

1.075 Jemaah Haji Debarkasi Banjarmasin Telah Kembali, Tujuh Jemaah Wafat di Tanah Suci

8 June 2026 - 09:58

Pemprov Kalsel Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia

8 June 2026 - 09:51

Peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Kantor Gubernur Kalsel Banjarbaru

2 June 2026 - 14:39

drg. Ellyana Hasnuryadi Lantik Pengurus Cabang Yayasan Jantung Indonesia Kabupaten Kotabaru

2 June 2026 - 14:33

Malaysia Kembali Sabet Predikat Tertinggi Penghargaan Labbaitom 1447 H, Indonesia Belum.

2 June 2026 - 12:56

Ramai di Medsos, Selain Anggaran Miliaran, Keamanan Website Pemprov Kalsel Diduga Bocor

31 May 2026 - 15:31

Trending di Terbaru