Menu

Mode Gelap

Kesehatan

Child Grooming Bukan Soal Kasih Sayang, Ini Penjelasan Psikolog tentang Pola Mental Pelaku


 Foto: Halo doc Perbesar

Foto: Halo doc

Kalseldaily.com Banjarbaru – Child grooming kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kedekatan emosional. Padahal, dari sudut pandang psikologi, perilaku ini mencerminkan pola mental dan emosional yang bermasalah pada pelaku.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa child grooming sama sekali tidak berangkat dari rasa cinta atau kepedulian yang sehat. Menurutnya, tindakan tersebut muncul dari kebutuhan psikologis pelaku yang menyimpang.

“Grooming bukan tentang kasih sayang, tapi tentang kebutuhan pelaku akan kontrol dan kekuasaan,” ujar Lahargo.

Ia menjelaskan, pelaku biasanya membangun kedekatan emosional secara perlahan agar anak merasa bergantung secara psikologis. Relasi yang terlihat hangat di permukaan sebenarnya bersifat timpang, karena pelaku memegang kendali penuh atas korban.

Selain dorongan untuk menguasai, pelaku child grooming juga kerap mengalami distorsi kognitif. Mereka membenarkan tindakannya dengan narasi internal seperti merasa sedang melindungi atau menyayangi anak. “Pelaku sering tidak melihat perbuatannya sebagai kejahatan, melainkan sebagai perhatian,” kata Lahargo.

Faktor lain yang menonjol adalah rendahnya empati terhadap korban. Pelaku cenderung tidak mampu merasakan penderitaan emosional anak dan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhannya sendiri. Dampak jangka panjang terhadap korban pun sering diabaikan.

Dalam beberapa kasus, pelaku diketahui memiliki pengalaman trauma atau pernah menjadi korban di masa lalu. Namun, Lahargo menekankan bahwa hal tersebut tidak pernah menjadi pembenaran. “Luka psikologis yang tidak disadari dan tidak disembuhkan bisa berubah menjadi pola menyakiti orang lain,” ujarnya.

Grooming sendiri dilakukan secara bertahap agar korban tidak merasa terancam. Proses ini dirancang untuk menurunkan kewaspadaan anak dan secara perlahan menggeser batasan relasi. Akibatnya, korban kesulitan membedakan hubungan yang sehat dengan yang manipulatif.

Lahargo menilai, memahami psikologi pelaku penting bukan untuk membenarkan perbuatannya, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. “Dengan memahami polanya, kita bisa lebih cepat mengenali tanda bahaya dan melindungi anak,” katanya.

Meski demikian, fokus utama tetap harus pada keselamatan dan pemulihan korban. Child grooming merupakan bentuk kekerasan psikologis yang dapat meninggalkan dampak jangka panjang, bahkan baru dirasakan saat korban dewasa.

Pemahaman ini juga menjadi refleksi dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang menggambarkan bagaimana pengalaman masa kecil yang tampak aman dapat menyisakan luka psikologis mendalam di kemudian hari. (Daily/Fin)

SC: Kompas

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

Empat Keluarga Korban Kecelakaan Maut Batulicin Terima Santunan Jasa Raharja

6 August 2026 - 06:44

RS Bhayangkara dr. Yusuf Wibandoko Banjarbaru Resmi Beroperasi

11 July 2026 - 13:17

BKOW Kalsel Gelar Sunatan Massal Ga

6 July 2026 - 20:40

Pemko Banjarmasin Bangun 200 Toilet Bertangki Septik 

4 July 2026 - 17:57

HARGANAS ke-33, Pemprov Kalsel Ajak Ayah Lebih Aktif Dampingi Tumbuh Kembang Anak

29 June 2026 - 13:18

Catat! Peserta BPJS yang Datang Sebelum Jadwal Kontrol Tak Akan Dilayani

17 June 2026 - 15:38

Trending di Kesehatan