Kalseldaily.com Tanah Bumbu – Transformasi energi bersih di sektor pertambangan kian nyata. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bersama PT Borneo Indobara (BIB) menegaskan komitmen tersebut melalui penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC) di Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu (8/2/2026).
Dalam kerja sama ini, PT Borneo Indobara resmi menambah pembelian REC sebanyak 23.040 unit atau setara pemanfaatan sekitar 40 ribu Megavolt Ampere (MVA) listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung praktik pertambangan yang lebih ramah lingkungan.
REC merupakan sertifikat digital yang merepresentasikan atribut lingkungan dari satu Megawatt Hour (MWh) listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan, seperti surya, air, dan panas bumi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa listrik yang digunakan pelanggan didukung oleh kontribusi EBT, meskipun secara teknis penyalurannya tetap melalui sistem jaringan terpadu PLN.
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menegaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan bentuk dukungan nyata PLN terhadap transisi energi nasional, khususnya di sektor industri.
“PLN berkomitmen penuh mendukung daya saing industri nasional melalui pemanfaatan energi bersih yang ramah lingkungan. Kami menghadirkan opsi layanan listrik hijau 100 persen yang dipasok dari pembangkit berbasis EBT melalui layanan REC,” ujar Adi.
Menurutnya, kerja sama REC tidak hanya sebatas transaksi sertifikat, tetapi juga langkah strategis untuk membantu industri nasional menjawab tuntutan global terkait dekarbonisasi dan penerapan prinsip keberlanjutan.
Sementara itu, Chief Operating Officer PT Borneo Indobara, Raden Utoro, menyampaikan apresiasi atas dukungan PLN dalam mendukung program Green Mining Realization yang dijalankan perusahaannya.
“Kami mengapresiasi dukungan PLN. Kerja sama ini sangat krusial karena keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan utama, mengingat gangguan pasokan dapat berdampak langsung pada aktivitas operasional tambang,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan listrik bersih yang andal menjadi semakin strategis seiring pengembangan titik-titik tambang PT BIB. Dukungan teknis dan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk transmisi dan gardu induk, dinilai mampu menopang kebutuhan daya puncak perusahaan yang diproyeksikan mencapai 200 hingga 240 MVA pada 2028.
“Program ini termasuk yang pertama berskala besar di Indonesia, dengan target elektrifikasi pada 2026 mencapai 25 persen armada alat berat berbasis listrik, meningkat menjadi 75 persen pada 2028, serta mengarah pada target nol emisi pada 2028–2029,” ujar Raden.
General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyambut positif langkah PT Borneo Indobara tersebut. Ia menyebut penjualan 23.040 unit REC ini menjadi capaian terbesar di wilayah Kalimantan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan PT Borneo Indobara kepada PLN. Ini menjadi penjualan REC terbesar di Kalimantan dan menunjukkan meningkatnya kesadaran industri terhadap energi bersih,” katanya. (Daily/Fin)















Leave a Reply