Kalseldaily.com – Puasa selama 12–14 jam membuat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup panjang. Meski demikian, pada orang sehat, tubuh memiliki mekanisme adaptasi yang baik untuk mempertahankan keseimbangan energi dan cairan.
Menurut dr. Yulia Wardhani, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal-hipertensi, saat berpuasa tubuh akan menggunakan cadangan glukosa yang tersimpan di hati (liver). “Jadi liver atau hati kita mengandung simpanan glukosa yang nanti akan dipecah pada saat tubuh membutuhkan. Artinya kalau tubuh tidak dapat dari luar maka dia akan dapat dari tubuh kita sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemecahan cadangan glukosa tersebut umumnya cukup untuk mengakomodasi kebutuhan energi selama puasa yang berlangsung sekitar 12–14 jam. Artinya, bagi individu sehat, tubuh tetap memiliki sumber energi meski tidak ada asupan makanan dari luar dalam rentang waktu tersebut.
Namun, persoalan yang lebih sering muncul saat puasa bukan semata kekurangan energi, melainkan gangguan keseimbangan cairan atau dehidrasi. Selama berpuasa, asupan cairan hanya bisa dilakukan sejak berbuka hingga sahur.
Waktu yang terbatas ini membuat pemenuhan kebutuhan cairan harian menjadi lebih menantang, sementara tubuh tetap kehilangan cairan melalui urine, keringat, pernapasan, dan aktivitas sehari-hari.
Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, suhu dan kelembapan yang tinggi turut meningkatkan penguapan cairan melalui kulit. Semakin tinggi suhu lingkungan dan semakin berat aktivitas fisik, semakin besar pula risiko kehilangan cairan.
Ginjal memang memiliki mekanisme adaptif untuk menyesuaikan produksi urine agar tidak berlebihan. Namun, jika asupan cairan tidak mencukupi atau pengeluaran cairan terlalu banyak, dehidrasi tetap bisa terjadi.
Pada tahap ringan, dehidrasi biasanya ditandai dengan rasa haus, pusing ringan, tubuh terasa lemas, warna urine lebih pekat, serta frekuensi buang air kecil yang berkurang. Warna urine dapat menjadi indikator sederhana untuk menilai kecukupan cairan. Urine yang jernih atau kuning muda menandakan hidrasi cukup, sedangkan warna kuning pekat menunjukkan tubuh kekurangan cairan.
Dalam kondisi yang lebih berat, gejala dapat berupa sulit berkonsentrasi, linglung, bibir dan mulut kering, penurunan elastisitas kulit, hingga tidak buang air kecil dalam waktu lama. Jika sudah muncul gangguan kesadaran atau disorientasi, kondisi tersebut perlu segera mendapat penanganan medis.
Kelompok yang lebih rentan mengalami dehidrasi saat puasa antara lain anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit kronis seperti gangguan ginjal, jantung, atau hati. Pada lansia, risiko meningkat karena cadangan cairan tubuh lebih sedikit dan respons rasa haus cenderung menurun.
Artinya, meskipun tubuh sudah kekurangan cairan, sensasi haus tidak selalu muncul dengan jelas. Anak-anak juga perlu mendapat perhatian, terutama jika tetap melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan saat berpuasa.
Untuk orang dewasa sehat dengan berat badan rata-rata, kebutuhan cairan harian umumnya sekitar 2 hingga 2,5 liter per hari dan jumlah ini tetap berlaku meski sedang berpuasa. Sekitar 80–85 persen kebutuhan cairan berasal dari minuman, sementara sisanya dapat diperoleh dari makanan, terutama buah dan sayur dengan kandungan air tinggi. (Daily/Fin)















Leave a Reply