Kalseldaily.com Banjarmasin – Gelaran Religi Expo 2025 resmi dibuka sebagai perayaan satu dekade penyelenggaraan sejak pertama kali digelar pada 2016. Direktur Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Abdani Solihin, menyebut momentum sepuluh tahun ini bukan sekadar pameran, tetapi ruang perjumpaan berbagai komunitas untuk saling mengenal dan merayakan keberagaman Kota Banjarmasin. Kegiatan digelar pada 14–16 November 2025 di kawasan Siring 0 Km.
Abdani menegaskan, Religi Expo sejak awal dirancang sebagai wadah dialog antaragama, antarsuku, dan berbagai kelompok masyarakat.
“Ini bukan hanya pameran, tetapi ruang untuk belajar satu sama lain tentang keragaman,” ujarnya. Karena itu, edisi ke-10 ini disebut sebagai Satu Dekade Religi Expo, menandai perjalanan panjang upaya memperkuat toleransi sosial di kota seribu sungai.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Religi Expo menghadirkan ragam kegiatan yang lebih kaya. Sebanyak 98 penampil turut meramaikan panggung, melibatkan 610 talent dari berbagai komunitas. Sejumlah lomba digelar, seperti mewarnai anak, Pesona Busana Nusantara, dan bakisah bahasa Banjar. Panitia juga memberikan penghargaan untuk stan terbaik dan stan terheboh sebagai bentuk apresiasi kreativitas peserta.
Mengangkat tema “Merawat Alam”, expo tahun ini memperluas ruang pembahasan pada isu lingkungan yang kian mendesak. Abdani menyebut tema tersebut sengaja diangkat sebagai refleksi bahwa keberagamaan tidak hanya mengatur relasi antarmanusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam.
“Ekosistem kita sedang tidak baik-baik saja. Agama dan budaya harus ikut mengingatkan kita soal itu,” katanya.
Ia menjelaskan, Religi Expo juga menjadi ruang kampanye kesadaran lingkungan, termasuk dukungan terhadap gerakan penolakan rencana Taman Nasional Meratus.
Menurutnya, isu lingkungan tidak bisa dipisahkan dari nilai keagamaan dan kemanusiaan. Expo ini diharapkan mampu mengajak berbagai komunitas untuk memandang alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral bersama.
Dari sisi toleransi, Abdani mencatat perkembangan positif di Banjarmasin. Berdasarkan indeks Setara Institute, posisi kota ini naik dari peringkat 30 menjadi 17.
“Ini modal yang harus terus dirawat. Kami berharap pemerintah dan media ikut menebarkan nilai-nilai keragaman agar masyarakat semakin terbiasa melihat perbedaan sebagai kekuatan,” ungkapnya.
Tahun ini, Religi Expo melibatkan 34 komunitas, terdiri dari komunitas agama, komunitas suku, koperasi berbasis budaya, serta UMKM binaan lembaga agama dan komunitas etnis. Kehadiran mereka mencerminkan wajah Banjarmasin yang semakin inklusif. (Daily/Fin)















Leave a Reply