Menu

Mode Gelap

Kesehatan

Kekurangan Dokter Spesialis Jadi PR Besar Kesehatan Kotabaru


 xr:d:DAE49Dkt_5c:807,j:3680984197559482158,t:24020207 Perbesar

xr:d:DAE49Dkt_5c:807,j:3680984197559482158,t:24020207

Kalseldaily.com Kotabaru – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Kotabaru, Erwin Simanjuntak, mengakui daerahnya masih menghadapi krisis dokter spesialis meskipun telah memiliki bangunan rumah sakit yang representatif. Menurutnya, kemegahan fasilitas kesehatan belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan tenaga medis ahli yang memadai.

Namun demikian, Erwin menegaskan pemerintah daerah tidak tinggal diam dan terus berupaya menarik dokter spesialis agar bersedia mengabdi di wilayah ujung tenggara Kalimantan Selatan tersebut.

Saat ini, jumlah dokter spesialis di Kotabaru tercatat sebanyak 34 orang yang tersebar di dua rumah sakit utama, yakni RSUD Pangeran Jaya Sumitra (PJS) dan RSUD Sengayam. Meski secara kuantitas terlihat cukup, Erwin mengakui sebaran keahlian masih timpang.

“Kebutuhan yang paling krusial dan saat ini ketersediaannya nol adalah Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah serta Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik di RSUD PJS,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah utara Kotabaru. RSUD Sengayam yang diproyeksikan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan perbatasan, hingga kini belum memiliki Dokter Spesialis Radiologi.

“Ini sangat penting agar RSUD Sengayam bisa memenuhi standar minimal pelayanan rumah sakit sesuai regulasi,” tambah Erwin.

Ia mengakui ketimpangan distribusi dokter spesialis merupakan persoalan nasional. Banyak dokter lebih memilih bertugas di kota besar seperti Banjarmasin yang memiliki ekosistem medis, fasilitas, serta jenjang karier yang lebih mapan.

Faktor geografis Kotabaru sebagai kabupaten terluas di Kalsel dengan karakteristik kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri.

“Kita paling jauh dari ibu kota provinsi. Ditambah lagi, jenjang karier di kota besar dinilai lebih kompetitif. Ini realita yang harus kita hadapi,” ujarnya.

Dampaknya, sejumlah kasus penyakit berat terpaksa dirujuk ke rumah sakit provinsi, yang menambah beban biaya, waktu, dan psikologis bagi pasien serta keluarga.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Kotabaru menyiapkan paket insentif yang cukup kompetitif. Melalui APBD yang dikawal DPRD, pemerintah mengalokasikan insentif daerah bagi dokter spesialis sebesar Rp30 juta hingga Rp42 juta per bulan, disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah.

“Selain insentif finansial, kami juga menyediakan rumah dinas, mobil operasional, serta jaminan keamanan agar dokter merasa nyaman dan fokus melayani masyarakat,” jelas Erwin.

Ke depan, Pemkab Kotabaru juga akan memperkuat strategi jangka panjang melalui pengusulan Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS) ke Kementerian Kesehatan, membuka formasi ASN khusus dokter spesialis, serta memberikan beasiswa pendidikan spesialis bagi putra daerah dengan ikatan dinas. (Daily/Fin)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

Ketua BKOW Kalsel drg. Ellyana Trisya Hasnuryadi, Silaturahmi Sekaligus Edukasi Kesehatan Lansia

11 April 2026 - 22:39

Klinik di Banjarbaru Edarkan Obat Tanpa Izin, Satu Tersangka Diamankan

9 April 2026 - 13:43

Puluhan Siswa  Alami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi MBG

8 April 2026 - 20:25

Antusias Warga Banjarmasin Donor Darah Meningkat di CFD Sabilal Muhtadin

5 April 2026 - 23:08

Batola Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Kalsel 2026, Keterbatasan Penginapan Tak Jadi Kendala

4 April 2026 - 20:16

WFH ASN di Pemprov Kalsel Masih Dibahas, Belum Ada Keputusan Final

2 April 2026 - 23:21

Trending di Hukum