Kalseldaily.com Loksado, HSS – Dentuman musik tradisional berpadu dengan gemericik air pegunungan dan sorak riang pengunjung mewarnai pembukaan Festival Budaya Meratus 2025 di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Rabu (15/10/2025). Dengan mengusung tema “Merepah Sahaja Budaya Meratus”, festival ini menjadi momentum untuk merayakan keindahan alam dan kekayaan tradisi suku Dayak Meratus.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 15–16 Oktober 2025, ini diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel. Beragam kesenian, ritual adat, hingga permainan rakyat menjadi daya tarik utama dalam perhelatan tahunan tersebut.
Sejak hari pertama, pengunjung disuguhkan pertunjukan seni khas Dayak Meratus seperti Tari Sarunai, Babang Sao, dan Bakanjar, diiringi alunan musik tradisional kurung-kurung yang menggema di lembah Meratus. Suasana hangat dan penuh semangat tercipta ketika warga dan wisatawan larut dalam irama yang berpadu dengan kesejukan alam Loksado.
Tidak hanya menonton, para pengunjung juga diajak berpartisipasi dalam berbagai lomba permainan tradisional seperti balogo dan gasing Dayak yang mengundang tawa serta nostalgia akan permainan masa lampau.
Memasuki hari kedua, festival semakin semarak dengan beragam kompetisi ketangkasan rakyat. Lomba sumpit, panah, balungkau, becabang, dan bepidak menjadi ajang adu keterampilan antar peserta yang sekaligus menampilkan keunikan budaya masyarakat pegunungan.
Puncak kegiatan ditandai dengan ritual Bahumbai, digelar serentak di 27 balai adat. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Dayak Meratus. Dalam ritual tersebut, pengunjung juga dapat menyaksikan pameran budaya — mulai dari pakaian adat, seni ukir, hingga proses pembuatan kain tradisional.
Sebagai penutup, diadakan kenduri rakyat atau makan bersama hasil Bahumbai. Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti seluruh peserta, menandakan eratnya hubungan antara manusia, alam, dan budaya di tanah Meratus.
Kepala Disdikbud Kalsel Galuh Tantri Narindra menegaskan bahwa Festival Budaya Meratus bukan sekadar ajang hiburan, melainkan sarana memperkuat jati diri dan pelestarian nilai-nilai lokal. “Kalimantan Selatan memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Melalui festival ini, kita ingin menanamkan kembali kebanggaan terhadap warisan nenek moyang, khususnya kepada generasi muda yang hidup di era modern,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan festival juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui bazar rakyat dan pasar budaya yang menampilkan produk UMKM dan ekonomi kreatif dari desa wisata sekitar. “Festival ini adalah wujud nyata dari semangat pelestarian dan pemberdayaan. Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi identitas yang harus terus dirawat dan dikembangkan,” tutup Galuh Tantri.
Dengan demikian, Festival Budaya Meratus 2025 tidak hanya menghadirkan pesona budaya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara alam, tradisi, dan manusia — sebuah harmoni yang menghidupkan kembali semangat Meratus dalam bingkai keindonesiaan. (Daily/fin/RB)
















Leave a Reply