Kalseldaily.com Banjarmasin – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin mencatat, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) menjadi penyumbang terbesar temuan kasus HIV dalam tiga tahun terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarmasin, drg. Emma Ariesnawati, mengatakan hampir setengah dari total kasus HIV yang ditemukan berasal dari kelompok tersebut.
“Kelompok LSL termasuk populasi kunci dalam program pencegahan HIV. Persentasenya cukup besar, yaitu 43,2 persen dari total kasus,” ujarnya.
Secara jumlah, kasus HIV di Banjarmasin mengalami naik turun. Pada 2023 tercatat 227 kasus baru. Angka tersebut meningkat menjadi 262 kasus pada 2024, lalu menurun menjadi 238 kasus pada 2025. Dari 238 kasus di tahun 2025 itu, sebanyak 102 kasus berasal dari kelompok LSL.
Menurut Emma, tingginya temuan kasus dipengaruhi beberapa faktor, seperti kepadatan penduduk, tingginya mobilitas masyarakat, serta perilaku hubungan seksual berisiko tanpa menggunakan kondom.
“Penularan paling banyak terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom. Karena itu, penggunaan kondom sangat penting untuk mencegah penularan,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan, meningkatnya jumlah pemeriksaan atau skrining HIV turut membuat jumlah kasus yang terdeteksi menjadi lebih banyak. Semakin banyak orang yang melakukan tes, semakin besar kemungkinan kasus ditemukan lebih awal.
Daerah Lain di Kalsel Juga Alami Hal Serupa
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Banjarbaru. Sepanjang 2025, Dinkes Banjarbaru menemukan 88 kasus HIV, dengan 26 kasus di antaranya berasal dari kelompok LSL. Hal ini disampaikan Kabid P2P Dinkes Banjarbaru, dr. Siti Ningsih.
Menurutnya, kelompok LSL termasuk populasi dengan risiko penularan yang cukup tinggi sehingga perlu perhatian khusus dalam upaya pencegahan.
Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), tren kasus bahkan lebih menonjol. Dari 53 orang yang terkonfirmasi positif HIV pada 2025, sebanyak 37 orang atau sekitar 70 persen terpapar melalui perilaku LSL.
Sementara itu, di Kabupaten Balangan tercatat 13 pasien yang menjalani pengobatan HIV, dengan 7 orang atau lebih dari 50 persen berasal dari kelompok LSL. Seluruhnya diketahui masih berusia muda dan belum menikah.
Di Kabupaten Banjar, terdapat 67 kasus HIV pada 2025, dengan 39 persen di antaranya berasal dari kelompok LSL yang mayoritas berusia produktif di atas 17 tahun.
Beberapa kabupaten lainnya juga mencatat angka serupa. Di Hulu Sungai Utara (HSU) terdapat 14 orang LSL dari total 23 kasus. Hulu Sungai Selatan (HSS) melaporkan 8 orang LSL dari 27 pasien aktif. Sedangkan di Barito Kuala, terdapat 3 orang LSL dari total 17 kasus sepanjang 2025. (Daily)
SC: RB














Leave a Reply