Menu

Mode Gelap

Banjarbaru

Invasi Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem Sungai di Banjarbaru


 Invasi Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem Sungai di Banjarbaru Perbesar

Kalseldaily.com Banjarbaru – Populasi ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) semakin mendominasi aliran sungai di sejumlah wilayah perkotaan di Kalimantan Selatan. Di Kota Banjarbaru, keberadaan spesies invasif ini bahkan kian sulit dikendalikan karena telah memenuhi Sungai Kemuning hingga kawasan Danau Lokodat dan sekitar Bandara Syamsudin Noor.

Kasi Bina Usaha dan Pengolahan Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Banjarbaru, Lindri Giwaningtyas, menyampaikan bahwa pemerintah kota sebenarnya telah melakukan berbagai upaya penanganan sejak beberapa tahun terakhir.

“Sejak beberapa tahun lalu Pemko Banjarbaru telah berupaya mengatasi populasi ikan sapu-sapu terutama yang ada di sepanjang Sungai Kemuning,” ungkapnya, Senin (13/4).

Menurut Lindri, lonjakan populasi ikan sapu-sapu telah memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan ekosistem sungai. Salah satu langkah yang pernah dilakukan adalah penangkapan massal pada tahun 2019, bekerja sama dengan pegiat lingkungan dan Universitas Lambung Mangkurat.

Dalam kegiatan tersebut, hasil tangkapan mencapai empat ton hanya dalam waktu dua jam.

“Selanjutnya setiap tahun kita melakukan aksi bersih sungai termasuk penangkapan ikan sapu-sapu bersama masyarakat dan mahasiswa pecinta lingkungan. Dalam waktu dekat kegiatan penangkapan ikan sapu-sapu kembali kita laksanakan,” kata Lindri.

Ia menambahkan, penangkapan ikan sapu-sapu menjadi bagian dari upaya pembersihan sekaligus pemulihan ekosistem Sungai Kemuning yang juga dikenal sebagai salah satu objek wisata di Banjarbaru. Hingga kini, pemerintah masih mencari strategi yang lebih efektif untuk mengendalikan invasi spesies tersebut.

Sementara itu, Kabid Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan, Khairuddin, menjelaskan bahwa fenomena serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain seperti Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.

“Ini lebih mirip aliran sungai atau parit yang menjadi lokasi pembuangan limbah. Species sapu-sapu merupakan spesies invasif dan berbahaya. Justru menjadi indikator pencemaran perairan dan jika diperairan terbuka maka populasinya kurang,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan ikan sapu-sapu menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Meski demikian, pihak provinsi berencana melakukan penelitian guna mencari potensi pemanfaatan ikan tersebut.

“Terkait penanganan sapu-sapu dikatakannya menjadi kewenangan kabupaten/kota. Namun pihaknya akan melalukan penelitian dalam rangka pemanfaatan ikan sapu-sapu baik untuk pakan ternak dan perikanan maupun manfaat lainnya. ‘Sejauh ini ya penanganannya dikubur, karena khawatir adanya logam berat jika dikonsumsi atau untuk pakan’,” kata Khairuddin.

Selain ikan sapu-sapu, sejumlah spesies invasif lain juga mulai mengancam perairan di Kalimantan Selatan, seperti ikan Lohan di Waduk Riam Kanan hingga Arapaima, meski penyebarannya belum sebesar ikan sapu-sapu. (Daily/md)

SC: Media Indonesia

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

Banjarbaru Raih Penghargaan Nasional Berkat Program Penanganan Kemiskinan dan Stunting

6 May 2026 - 11:21

19 Kloter Haji Kalselteng Siap Terbang, Bandara Syamsudin Noor Pastikan Layanan Optimal

23 April 2026 - 08:58

Dua Bocah Tewas Tenggelam di Kolam Guntung Paring

5 April 2026 - 23:01

Banjarbaru Gandeng Kementerian LH Percepat Reformasi Sampah

4 April 2026 - 20:04

Banjarbaru Terapkan CFD di Jalan Panglima Batur Mulai 12 April 2026

2 April 2026 - 22:27

Hari Jadi ke-27 Banjarbaru, Pemko Siapkan 15 Ribu Soto Banjar Gratis

1 April 2026 - 18:34

Trending di Banjarbaru