Kalseldaily.com Jakarta – Beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menjadi tantangan besar bagi BUMN yang menjadi pemegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Kerugian yang mencapai triliunan rupiah dalam setahun membuat pemerintah dan Danantara Indonesia harus memikirkan ulang skema pembayaran agar proyek strategis ini tidak terus membebani keuangan negara melalui BUMN.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pembahasan mengenai skema penyelesaian utang masih berlangsung dan belum mengarah pada satu keputusan final. Ia menegaskan bahwa seluruh opsi masih dibicarakan di tingkat pimpinan.
“ Kita ada kebijakan pimpinan di atas, belum putuskan juga. Sepertinya kita memang akan cenderung membayar ke jalannya infrastrukturnya,” ujar Purbaya di Kantor Kemenkeu, mengutip dari Kompas.com, Senin (17/11/2025).
Menurut Purbaya, pemerintah tidak ingin terburu-buru menentukan pola pembayaran utang mengingat kondisi finansial KCIC dan tanggung jawab yang melekat pada para pemegang sahamnya. Ia menekankan bahwa proyek kereta cepat tetap harus berjalan sembari pemerintah mencari formula pembayaran yang paling realistis tanpa menambah risiko baru.
Sikap tegas Purbaya terkait penggunaan APBN juga disampaikan jauh sebelumnya. Pada Oktober lalu, ia menolak wacana penggunaan anggaran negara untuk menutup utang proyek Whoosh. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa beban pembayaran harus ditanggung oleh BPI Danantara Indonesia, lembaga yang sejak tahun ini menjadi penerima seluruh dividen BUMN.
“Dulu kan semuanya pemerintah yang menanggung. Tapi ketika sudah dipisahkan dan seluruh dividen masuk ke Danantara, Danantara cukup mampu untuk membayar itu,” katanya di Jakarta, dikutip dari Kompas.com, 15 Oktober 2025.
Purbaya juga menegaskan bahwa Kementerian Keuangan tidak lagi menerima dividen BUMN sebagai bagian dari penerimaan negara mulai tahun ini. Kebijakan pengalihan dividen ke Danantara membuat lembaga tersebut dinilai memiliki kapasitas finansial untuk menanggung sebagian kewajiban utang Whoosh, mengingat KAI—sebagai BUMN—menjadi pemegang saham utama KCIC.
Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk penataan ulang sistem pembiayaan proyek besar agar tidak sepenuhnya membebani negara. Dengan dividen BUMN yang terkonsentrasi di Danantara, Purbaya menilai lembaga tersebut berada di posisi yang tepat untuk mengambil alih pembiayaan utang bersama pemegang saham lainnya. (Daily/Fin).















Leave a Reply